
Bandung, Jawa Barat (29/11) — Setelah rangkaian rapat dari Uni Indonesia Kawasan Barat (UIKB) dan Uni Indonesia Kawasan Tengah (UIKT) selesai, seluruh delegasi kembali berkumpul di ruang utama untuk mengikuti Ibadah Bersama Buka Sabat (Vesper). Ibadah dimulai dengan lagu pujian yang dibawakan oleh para delegasi dari Rumah Sakit Advent Bandar Lampung, dilanjutkan dengan perkenalan pembicara oleh Pdt. Mesnick Ataupah, Sekretaris Eksekutif Uni Indonesia Kawasan Tengah terpilih.
Pembicara utama pada ibadah ini adalah Pdt. Samuel Yotam Bindosano, Sekretaris Eksekutif Divisi Asia Pasifik Selatan. Dalam khotbahnya, ia menyampaikan pesan tentang berbagai tantangan pelayanan yang akan dihadapi para pemimpin gereja, dengan renungan utama yang mengambil tema dari “batu” sebagai simbol kehadiran Tuhan dan kekuatan iman umat.
Batu Pertama: Batu Pertolongan (Stone of Help)
Pdt. Bindosano mengawali renungan dengan 1 Samuel 7:12, ketika Samuel menamai sebuah batu sebagai Ebenhezer, “sampai di sini Tuhan menolong kita.” Batu ini menjadi simbol pertolongan Tuhan dalam setiap perjalanan iman. Seperti yang diingatkan dalam Mazmur 144:1, Tuhan adalah gunung batu yang kekal yang memberikan kemenangan di setiap perjalanan.
“Tuhan menolong kita dalam kesulitan yang dihadapi. Jika Dia sudah memimpin kita di waktu lalu, Dia pasti akan memimpin kita di masa depan. Dengan doa, penyerahan, dan ibadah sungguh, Tuhan akan memberikan jalan,” ujar Pdt. Bindosano.

Batu Kedua: Batu yang Hidup (The Living Stone)
Batu kedua diambil dari tulisan Petrus, yang menyebut Yesus sebagai Batu yang Hidup, dibuang oleh manusia namun dihormati Allah. Batu yang hidup ini menjadi dasar gereja, mempersiapkan umat untuk misi keselamatan dan kedatangan Kristus.
Pdt. Bindosano menegaskan bahwa setiap pemimpin dan pelayan Tuhan, dimanapun ditempatkan, memiliki tujuan yang sama: membawa jiwa-jiwa untuk mengenal Yesus dan mempersiapkan kedatangan-Nya. Ia mengingatkan agar setiap pemimpin, pelayan hingga jemaat memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Living Stone, karena hubungan yang lemah dengan Tuhan akan menjadi masalah besar dalam kehidupan rohani.
“Sampai di sini Tuhan memberkati dengan Living Stone, dan sampai seterusnya Dia menolong kita membawa Living Stone ke banyak orang di seluruh penjuru dunia,” ujarnya.
Batu Ketiga: Batu Penjuru (Cornerstone)
Batu ketiga dikaitkan dengan Yesaya 28:16, yang menyebut Yesus sebagai Batu Penjuru yang mahal. Batu Penjuru ini menjadi fondasi gereja yang kokoh, memastikan bahwa meskipun pemimpin berganti dan generasi silih berganti, organisasi dan gereja tetap tegak hingga kedatangan Kristus.
“Gereja ini seperti kapal, badai melambangkan serangan setan, dan Yesus adalah nahkoda yang menuntun kita. Perjalanan gereja akan menghadapi banyak serangan, namun Yesus sebagai Cornerstone menjaga keselamatan umat-Nya,” jelas Pdt. Bindosano.

Renungan Akhir: Tuhan sebagai Batu Hidup dan Penolong
Pdt. Bindosano menutup ibadah dengan ajakan perenungan, menegaskan bahwa gereja dan pelayanan dapat berdiri hingga saat ini karena Tuhan adalah Stone of Help, The Living Stone, dan The Cornerstone. Ia juga kembali mengingatkan seluruh delegasi untuk menjadikan Tuhan sebagai Batu dalam hidup dan pelayanan mereka, sehingga misi yang dipercayakan kepada para pemimpin dan jemaat dapat terpenuhi, dan pada waktunya semua akan diselamatkan pada kedatangan-Nya.
Ibadah Vesper ini menjadi momen perenungan bagi seluruh delegasi, memperkuat komitmen dalam pelayanan, doa, dan pertumbuhan iman di tengah tantangan zaman.
Mari dapatkan informasi resmi dan terperaya terkait Konferensi Lima Tahunan UIKB & UIKT 2025 melalui:
Facebook: https://www.facebook.com/advent.indonesiabarat
Instagram: https://instagram.com/advent.indonesiabarat
Youtube: https://www.youtube.com/@advent.indonesiabarat
Penulis: E.R., Komunikasi UIKB

