
Bandung, Jawa Barat (28/11) — Konferensi di hari Jumat, diawali dengan lagu pujian yang disampaikan oleh delegasi perwakilan Rumah Sakit Advent Medan. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan pembicara yang disampaikan oleh Pdt. Suciyanto. Dalam renungan pagi yang dibawakan oleh Pdt. Sugih Sitorus (Sekretaris Asosiasi Kependetaan Divisi Asia Pasifik Selatan terpilih), umat diajak untuk merenungkan kembali perjalanan iman melalui tema “Belajarlah dari Pada-Ku”.
Renungan ini menyoroti pergumulan terdalam manusia: jarak antara hati dan pikiran. Menurutnya, jarak itulah yang sering kali menjadi tantangan terberat dalam kehidupan beriman, terlebih bagi mereka yang dipercaya menjadi seorang pemimpin.
“Sebagai pemimpin, kadang apa yang ada di pikiran harus berbeda dengan apa yang ada di hati.”
Ia menegaskan bahwa sering kali hati dan pikiran tidak sejalan, namun umat Kristen diajak untuk terus berdoa agar Tuhan menuntun setiap langkah.
Menanti Kedatangan Tuhan dengan Ketulusan Doa
Sebagai umat yang menantikan kedatangan Tuhan, Pdt. Sitorus mengingatkan bahwa kesungguhan dalam berdoa harus semakin ditingkatkan. Namun ia juga menyinggung pertanyaan yang mungkin muncul di hati banyak orang: “Jika sampai sekarang Tuhan belum datang, apa yang harus dilakukan?”
Jawaban itu ia arahkan kepada pesan dari Matius 11:28–29, untuk datang kepada Tuhan dan Ia akan memberi kelegaan.
Ketika seseorang mengalami masalah dengan orang lain, hal pertama yang harus dilakukan adalah jujur kepada diri sendiri. “Sesungguhnya, kita sedang bermasalah dengan diri kita sendiri,” katanya. Ketika seseorang sudah membereskan hubungannya dengan Tuhan dan dirinya, maka tidak ada lagi masalah yang benar-benar besar dengan sesama. Dari sinilah muncul panggilan untuk hidup dalam kelemahlembutan.

Lemah Lembut: Teguh pada Seluruh Perintah Tuhan
Dalam renungan tersebut, Pdt. Sitorus menekankan bahwa sifat lemah lembut bukan berarti lemah, melainkan teguh dalam seluruh perintah Tuhan. Perintah itu bukan hanya Sepuluh Hukum, tetapi juga mencakup sikap hidup seperti tidak khawatir, murah hati, mengampuni, tidak iri hati, dan yang paling penting: menginjil dan bersaksi. Ia mengingatkan bahwa bersaksi dapat dilakukan melalui perbuatan baik sehari-hari.
“Bersaksi bukanlah pilihan, tetapi keharusan.”
Memiliki Roh Kerendahan Hati
Beliau juga menyoroti pentingnya memiliki roh kerendahan hati, yaitu roh Kristus, bukan roh kesombongan. Ia menyebutkan dosa kesombongan sebagai dosa yang paling tidak berpengharapan karena berbeda dengan dosa-dosa lain; kesombongan tidak menimbulkan kegelisahan tubuh sehingga sering tidak disadari.
“Kesombongan adalah roh yang dimiliki iblis,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh umat untuk merendahkan hati satu kepada yang lain dan tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain. Di situlah, katanya, kejatuhan yang sempurna bisa terjadi bagi orang yang sombong.

Semua Karena Kasih Karunia
Mengakhiri renungannya, Pdt. Sitorus mengingatkan bahwa jabatan, tanggung jawab, dan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada seseorang bukan karena kemampuan pribadi, tetapi murni karena kasih karunia-Nya. Bila hal ini terus diingat, seseorang tidak akan pernah merasa lebih baik daripada orang lain.
Renungan ini menjadi pengingat juga bagi umat untuk terus hidup dalam doa, kerendahan hati, serta kesetiaan kepada perintah Tuhan, sambil menantikan kedatangan-Nya dengan hati yang siap dan pikiran yang taat.
Mari dapatkan informasi resmi dan terperaya terkait Konferensi Lima Tahunan UIKB & UIKT 2025 melalui:
Facebook: https://www.facebook.com/advent.indonesiabarat
Instagram: https://instagram.com/advent.indonesiabarat
Youtube: https://www.youtube.com/@advent.indonesiabarat
Penulis: E.R., Komunikasi UIKB

